Aku dan HIV/AIDS #SayaBeraniSayaSehat

22.07.00

foto ilustrasi (sumber klikdokter.com)
“Man...! jangan pakek tusuk gigi disini, gek keno HIV/AIDS kau...” – ujar temanku yang seketika langsung kuhentikan tusuk gigi yang hampir menjamah sela-sela gigi ini. “emang ngapo sih, masa cak itu bae pacak keno HIV/AIDS...?” balasku dengan ekspresi penasaran. Lalu kemudian Temanku dengan antusias menjelaskan bahwa dirinya sempat membaca berita di Internet yang mengungkapkan saat itu lagi heboh isu penyebaran HIV/AIDS lewat tusuk gigi, dimana para pengidap HIV/AIDS sengaja menggunakan darah mereka untuk dicampur dengan tusuk gigi, dengan tujuan agar orang-orang yang menggunakan tusuk gigi di banyak tempat makan terjangkit virus HIV.. “serius, kok tega nian yo...” ungkapku yang menyimak dengan serius.

Kemudian temanku yang lainnya juga menimbrung pembicaraan kami (secara makannya rame-rame dan maaf namanya aku samarkan hahahah), “ujinyo mereka (pengidap HIV/AIDS) sengajo makek tusuk gigi, lalu dibaleke lagi kedalam tempat tusuk gigi yo”.. “nah iyoo” – ujar temanku yang lainnya lagi. Yang terjemahan dari percakapan bahasa Palembang itu adalah para pengidap HIV/AIDS dengan sengaja menggunakan tusuk gigi lalu dikembalikan lagi ketempatnya agar orang bukan pengidap bisa terjangkit, dan tentunya teman-teman lain juga mengiyakan penjelasan dari temanku yang pertama, dan yang paling parah adalah aku mempercayai hal itu sampai dengan sekarang.

Cerita diatas seingatku terjadi pada aku masih semester 3 di kampus dulu, pada tahun 2011 akhir kalo gak salah, ketika aku masih unyu, lugu, dan masih bisa tertipu dan diberdaya hahaha. Itu berarti hampir 7 tahun lebih aku percaya bahwa tusuk gigi itu bisa menyebarkan virus HIV, dan hal itu membuatku selalu mengurungkan diri sehabis makan di warung pecel lele di pinggir jalan, di rumah makan masakan pada, atau dimanapun rumah makannya yang menyediakan tusuk gigi untuk membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi ini.

And Now... akhirnya aku sadar ternyata selama 7 tahun ini aku telah salah. Salahnya aku itu mudah banget percaya dengan isu-isu seperti virus HIV lewat tusuk gigi, gelang penyeimbang, dan pernah waktu SMA lagi heboh-hebohnya panggilan nomor merah/layar hape jadi merah, itu semua HOAX.. ckckckck.. serta lagu Gaby – Tinggal Kenangan yang penuh misteri itu hmmmm... (infonya dapet dari acara Silet di R*ti waktu jaman itu hahaha).


PENTINGNYA INFORMASI YANG AKURAT DAN TERPERCAYA

Sebenernya gak 100% salah di aku juga, secara faktor X juga penyebab kenapa aku percaya hal yang gituan.. (ini apa sih faktor Xnya dari tadi hahaha...). Oke guys...(mode vlogger ala-ala aktif) jadi maksud faktor Xnya disini seperti aku mendapatkan informasi dari orang yang tidak tepat, bukan orang yang expert/ahli di bidangnya. Terus informasinya yang menyebar begitu cepat kesemua orang, ya.. karena semua orang percaya, begonya diri ini ikut-ikutan percaya tanpa kroscek terlebih dahulu kebenarnya. Jadi perlu diingat ini gak murni 100% kesalahan aku ya guys.. jadi maafin diri ini ya..

Tentunya rasa ingin tahu akan kebenaran yang sesunggunya itu ada didalam jiwa, akan tetapi untuk membedakan yang Hoax dan yang benar itu sulit juga, karena untuk mendapatkan sesuatu yang benar itu harus ada fakta yang mendukung serta harus dijelaskan oleh yang ahli, secara orang awam seperti aku ini harus ada yang meyakinkan untuk mempercayai suatu hal, secara sudah sering di PHP *loh hahaha...

Beruntungnya aku mendapatkan undangan Temu Blogger Kesehatan Palembang dari @kemenkesRI, dalam rangka Peringatan Hari Aids Sedunia “Saya Berani Saya Sehat”, yang diselenggarakan pada 04 Desember 2017. Ini merupakan kesempatan untuk mencari tau dan menambah ilmu, tentunya sarana yang tepat karena disampaikan langsung oleh ahli dibidang HIV/AIDS ini.

Bertempat di Hotel Excelton Palembang, pagi itu langsung ku menuju lantai 2 tempat diselenggarakannya acara, ternyata sudah rame ya perserta yang hadir, dan tentunya “eh.. elo lagi elo lagi” hehehe, yang pasti ini acara bisa jadi ajang meet up dan silahturahmi bareng blogger-blogger Palembang.


Setelah selesai registrasi, ada deretan meja yang ditunggui oleh 3 orang mbak-mbak berbaju putih dan berjilbab merah yang menarik perhatianku, dan setelah berkeporia ternyata disini bisa melakukan tes HIV/AIDS secara gratis, sebagian dari kami para peserta juga ikut melakukan tes, karena aku yakin hasilnya pasti negatif secara kan aku masih “suci” HAHAHA...


Narasumber acara ini ada 3 orang, yakni Bapak Indra Rizon, SKM M.Kes (Kepala Hubungan Media & Lembaga Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI) yang membahas tentang kenali penyakit perilaku dan hidup sehat dengan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Lalu ada Ibu dr. Endang Budi Hastuti (Kasubdit AIDS Direktorat Pencegahan Penyakit Menular Langsung (PPML) Kemenkes RI) tentang Kebijakan Nasional Program HIV/AIDS dan Infeksi menular seksual. And the last ada Bapak  Feri Yanuar, SKM, Mkes (Kabag P2P Dinkes Provisi Sumatera Selatan) yang menjelaskan tentang Epidemi HIV/AIDS di Provinsi Sumatera Selatan. Untuk penyampaian materi dari masing-masing narasumber ini dipandu oleh Ibu Widyawati, Mkes (Kepala Bagian Pelayanan Masyarakat Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat, Kemenkes RI).. fiuuh panjang banget ya jabatannya.. tapi sengaja memang aku tulis dan aku cantumkan biar kalian semua guys bener-bener pecaya bahwa aku tak akan tertipu lagi dengan info-info Hoax, secara yang memberikan materi tentang HIV/AIDS ini langsung ahlinya yang turun gunung.


Bapak Indra
Dimulai dari Bapak Indra yang membahas mengenai banyak penyakit yang timbul dikarenakan kurangnya aktivitas fisik, merokok, minum-minuman beralkohol dan kurangnya konsumsi buah dan sayur. Melalui GERMAS, mengaja semua lapisan masyarakat untuk membudidayakan hidup sehat, berusaha agar mampu mengubah kebiasaan-kebiasaan atau perilaku tidak sehat, dan memeriksakan kesehatan secara berkala.


Selanjutnya info dari narasumber Ibu Endang yang menginfokan bahwa kasus HIV di Indonesia itu ternyata sebanyak 242.699 kasus s/d Maret 2017, 40.000,-an kasus ditemukan pertahun, itu artinya lebih kurang 110 kasus perhari. *Eiittsss.. itu untuk kasus terdata saja di Kemenkes RI, yang belum terdata..? hmm..


Ibu Endang
Lalu Ibu Endang mengajak para peserta uji pengetahuan dulu. Ada salah satu pertanyaan yang aku ingat yakni “bisakah seseorang tertular HIV dengan cara menggunakan alat makan atau minum secara bergantian dengan seseorang yang terinfeksi HIV...?”. lalu dengan polosnya daku sebagai orang awam yang minim pengetahuan tentang HIV/AIDS ini menjawab bisa, dengan alasan misalnya sendok yang abis pakai itu bekas mulut dan terkena liur, takutnya nanti kalo di pakek orang lain bisa kena juga. Lalu ada lagi pertanyaan “bisakah seseorang tertular HIV dari gigitan nyamuk atau serangga...?” dan lagi aku menjawab mungkin bisa iya bisa juga tidak, mungkin nyamuknya yang kena virus HIV hehehe.. harap maklum ya bu, secara yang jawab ini adalah remaja labil yang ilmunya tentang HIV/AIDS hanya sebesar butiran debu yang kemudian tertiup angin...


Disinilah sesi seru, yakni Ibu Endang menjelaskan bahwasannya virus HIV tidak mudah menular karena cara penularannya sangat terbatas pada: hubungan seksual, berbagi jarum Suntik, produk darah dan organ tubuh, dan Ibu hamil positif HIV ke bayinya. Yang namanya menggunakan alat makan dari ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), gigitan nyamuk atau serangga, dan penularan melalui tusuk gigi seperti yang aku ceritain diatas itu adalah Hoax alias gak bener.. fiuuuh.. terjawab sudah langsung dari ahlinya.. (yee.. pengetahuan aku nambah loh *noted sambil menyimak dengan serius*).


HIV/AIDS itu tidak menular, kalo kalian ciuman, pelukan, menggunakan WC bersama (bukan barengan masuk WCnya ya :P hahaha), sentuhan/jabat tangan, menggunakan alat makan bersama, terkena gigitan serangga/nyamuk yang sebelumnya menggigit ODHA, atau tinggal serumah dengan ODHA. Kalo ada yang bilang sama kalian kalo pelukan dengan ODHA bisa kenal HIV jangan percaya deh, itu Hoax semua ternyata. Ingat ya guys.. aku jelasin diatas itu informasi langsung dari Kemenkes RI, jadi dijamin hehehe.. Oke.. cukup aku aja yang jadi korban hoax itu.


Bapak Feri
Lanjut ke Bapak Feri yang menjelaskan tentang rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1 sedangkan raiso AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 4:1, faktor resiko terbanyak dari heteroseksual sebesar 65%, homoseksual 28% dan perinatal 4%. Jadi intinya disini laki-laki yang paling banyak terkena virus HIV.. jadi guys.. kita sebagai laki-laki (ceileh hahaha) harus kudu wajib menjaga diri sendiri.. be careful guys.. dan stay “suci” hingga waktunya tiba.. *kode hahaha.

Gimana guys.. dari 3 narasumber aja udah banyak banget ilmu yang aku terima dan aku pahami hehehe.. lalu ditambah dengan sesi sharing langsung dari ODHA, yakni mbak Ayu Oktariani (aku panggilnya mbak Ayu aja ya biar akrab gitu).. Tapi beneran guys ini sesi yang bener-bener menginspirasi dan bakal membuka pemikiran kalian lebar-lebar tentang isu HIV/AIDS yang selama ini berkembang di masyarakat awam.

MARI UBAH STIGMA DAN PEMIKIRAN YANG SALAH
with Mbak Ayu
Mbak Ayu sendiri becerita bahwa dirinya hidup dengan HIV sejak tahun 2009 karena tertular dari alm. suaminya yang pernah memakai NAPZA jenis putaw. Sejak saat itulah kehidupan mbak Ayu berubah derastis.

Menurut mbak Ayu, hal yang paling nggak nyaman adalah stigma dan diskriminasi dari masyarakat, sebutan “Penderita HIV/AIDS” itu juga terdengar menyakitkan. Mbak Ayu juga sempat dipecat dari pekerjaanya karena perusahaannya takut bahwa HIV dapat menular ke karyawan lain. Stigma negatif seperti ini yang melekat bisa membuat ODHA menjadi down, dan seperti yang kita tau bahwa HIV menyerang sistem kekebalan tubu oleh karenanya ODHA rentan dengan penyakit, dan butuh watu yang cukup lama untuk sembuh karena kekebalan tubuhnya nggak stabil.


Namun mbak Ayu tetap tegar dan berusaha bangkit, karena masih ada keluarga/orang tua yang sayang dan mensupportnya, hingga saat ini mbak Ayu tetap sehat bugar dan aktif membantu sesama ODHA untuk berjuang melawan HIV untuk terus hidup, serta melawan dengan bukti yang nyata untuk membela ODHA yang seharusnya dirangkul dan disupport.

So guys.. buat kalian yang baca ini jika bertemu dengan “mereka” jangan langsung judge ya bahwa mereka orang gak bener, inilah itulah.. please stop do that, karena kita gak tau cerita dibalik bagaimana mereka bisa tertular virus HIV. Ada baiknya kita memanggil dengan sebutan ODHA itu saja sudah membuat mereka senang. Ingat ya.. lidah itu tajam.. setajam.. silet.. (bayanginya nyebutin Silet ala-ala feni rose gitu hahaha).

with Mas Antonio dan Istrinya
Ada juga sesi sharing dari Mas Antonio yang juga seorang ODHA, yang menceritakan pengalaman dan perilaku tidak sehat sehingga terkena HIV. Namun dirinya bangkit dan berubah serta berjuang untuk hidup dan segar bugar hingga sekarang. Bahkan Mas Antonio sempat keliling Eropa berkat karya bukunya yang difilmkan dan memenangkan penghargaan disana. Oh iya.. ODHA juga bisa menikah loh, buktinya Mas Antonio juga sudah menikah dengan sesama ODHA, dan ternyata bisa dapet keturunan yang negatif HIV.. beneran loh itu, tentunya lewat saran dan program yang tepat dari sang ahli.


with Kang Arul
Lanjut ke Kang Arul, blogger dan juga seorang Dosen yang galau hehehe.. Kang Arul juga memberikan materi tentang penulisan di blog, dan Kang Arul juga mengajarkan tentang “Konten dilawan dengan Konten” dengan kata lain banyak berita Hoax yang beredar harus dilawan dengan berita/konten yang sebenarnya. Serta dalam menulis beberapa kata saja bisa menjadi sebuah cerita, dan dalam menulis diblog langsung saja ditulis jangan mikirin judul dulu. (eh tapi bener loh.. aku buat tulisan ini yang draftnya 5 lembar belum ada judul hingga tiba saatnya posting hehehe).


Jadi gimana guys... setelah kalian baca apa yang aku ceritain diatas.. overall HIV/AIDS itu penularannya terbatas hanya pada hubungan seksual (seks bebas, atau suami/istri yang kena HIV menularkan pada suami/istrinya), berbagi jarum Suntik, produk darah dan organ tubuh, dan Ibu hamil positif HIV ke bayinya. Diluar dari itu untuk saat ini berarti HOAX.. berkaca pada pengalaman diri sendiri yang menganggap tusuk gigi dapat menularkan HIV itu adalah salah. So.. mulai saat ini harus berfikir positif dan menjauhi pemikiran stigma negatif bahwa ODHA itu inilah, itulah, apalah.. karena kita gak tau jika seseorang dilihat dari penampilannya dia terkena HIV/AIDS atau tidak, dan kita semua beresiko, aku.. kamu.. kalian semua beresiko terkena virus HIV, maka dari itu harus jaga pergaulan, jaga diri, perkuat iman, dan ingat bahwa keluarga itu selalu ada apapun keadaan kita.

Oh iya.. HIV itu sendiri sudah ada obatnya, yakni Antiretroviral (ARV). Akan tetapi ODHA diharuskan untuk mengonsumsi obat ARV seumur hidup mereka. Sebab sejatinya virus HIV tidak dapat dihilangkan dari dalam darah, namun hanya menekan jumlah virusnya saja. Lewat mengonsumsi obat ARV secara rutin dan terus-menerus, virus HIV dalam darah pasien akan ditekan hingga tidak terdeteksi dalam tes HIV. Segera setelah virus HIV berhasil dikendalikan, para ODHA dapat hidup normal selayaknya orang sehat. Mereka dapat menikah dan memiliki keturunan. Pasangan mereka pun tak perlu khawatir tertular. Buktinya adalah mbak Ayu yang tadi aku ceritain diatas, pasangnya saat ini adalah non-ODHA dan telah menikah, bahkan sempat memiliki keturunan negatif HIV, namun keberuntung belum berpihak ke mbak Ayu karena anaknya sudah dijemput yang maha kuasa, tapi meninggalnya bukan karena HIV.. melainkan karena ada kelainnya dari organ apa gitu.. maaf ya mbak Ayu.. maman lupa hehehe..


Oke guys.. terima kasih.. semoga dengan tulisan ini kita semua yang baca sadar dan menambah pemahaman serta menghapus perlahan stigma negatif yang bertebaran di masyarakat tentang isu HIV.. #trims.

#SayaBeraniSayaSehat

You Might Also Like

9 komentar

  1. Ada akuuuu #laaaah

    Keren man, menginspirasi. Memang semua orang perlu tahu tentang fakta terkait hiv aids dan ODHA inj biar dak salah treatment ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener... harus diperbaiki dulu stigman negatif yg terlanjur melekat.. dimulai dari kita dulu ya

      Hapus
  2. Wahh informasinya lengkap banget nih kak Maman. Ternyata banyak banget ya isu berita hoax tentang penyakit HIV/AIDS ini. Sedih sempat percaya sama isu itu juga. Btw, ikut tes HIV/AIDS juga kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener.. apalagi tentang tusuk gigi.. hahahaha aku bener-bener temakan omongan orang hahaha.. ikut donk 😂 meskipun aku "suci" tp tidak menutup kemungkinan.. karena semua orang beresiko terkena virus HIV.. so.. harus berani biar kita tau kita sehat.. yeeey

      Hapus
  3. Wahh info yang penting banget, semoga kita bisa jd masyarakat yg hidup sehat yaa. Jauhi virusnya bukan orangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. sehat jasmani dan rohani serta.. pemikiran harus sehat 😁 agar tidak mudah terhasut berita hoax..

      Hapus
  4. Terimakasih kak Maman atas infonya sekarang saya lebih mengetahui bahwa tusuk gigi bukanlah salah satu alat untuk menularkan virus HIV/AIDS

    BalasHapus
  5. Sebelum ini saya jg rada ngeri pas denger kata ODHA.. Setelah ikut seminar saya jadi lebih tahu ttg ODHA..

    BalasHapus
  6. F4ns Bett1nG s1tus Jud1 b0la 0nline terpercaya :)

    BalasHapus

Popular Posts

Google+

Twitter

Subscribe