Menuju Pengelolaan Hutan Lestari Kini dan Nanti

23.32.00


Hutan menjadi bagian tak terpisahkan dalam cerita hidupku, bukan berarti identitasku adalah seorang tarzan yang kalo ketemu dengan orang baru bilang “Haha huhu hubaaa...” *garuk kepala sambil jalan ala orang utan* atau “auwoooo..!!!” setiap ketemu akar pohon yang bergelantungan. Tapi... untuk teriak “auwooo..!!!” aku akui sering dilakukan saat masih di usia belia sehabis pulang belajar menuntut ilmu di Sekolah Dasar menuju rumah, menyusuri jalan setapak, melewati hutan dan menyebrangi sungai yang jembatannya hanya berupa robohan kayu besar *bisa dibayangin donk*. Oleh karena itu aku suka menonton “Bolang” yang mengingatkanku pada masa lalu yang seru dan penuh petualangan.

Sumber foto disini

Masa kecilku banyak bermain dihutan (tapi gak setiap hari loh), seperti bermain perang-perangan (membuat pedang dari kayu), bermain tembak-tembakan dengan menggunakan bambu sebagai pistol dan buah talok sebagai peluru (istilahnya kalo di Dusunku dulu disebut Bedelan), dan masih banyak lagi permainan dan mainan yang bisa dibuat dari hasil hutan melalui kreatifitas serta imajinasi anak-anak kecil pada jaman itu, termasuk akulah didalamnya.


Foto Ilustrasi Kegiatan Nanggok Ikan (sumber foto disini)

Saat aku kecil pun, Nanggok ikan di sungai menjadi kegiatan rutin yang dilakukan jika memasuki musim kemarau (Nanggok ikan adalah istilah di Dusunku untuk kegiatan menangkap ikan di sungai saat musim kemarau dengan ketingginya air sungai hanya sekitar lutut orang dewasa, dilakukan secara beramai-ramai menggunakan ember/baskom sortir (bolong-bolong). Tentunya pada saat aku kecil yang aku ingat dan rasakan itu adalah musim dan cuaca yang memang benar-benar konsisten. Kalian tau donk dalam pelajaran Geografi di jelaskan bahwa Indonesia itu beriklim tropsi dan hanya mempunyai 2 (dua) musim, yakni musim hujan dan kemarau. Dalam artian jika musim hujan yang rutin cuaca bakalan mendung dan hujan hampir setiap hari (yah.. meskipun terkadang mendung tidak berati hujan), dan sebaliknya jika musim kemarau maka cuaca panas dan air sungai mulai surut. Oleh karenanya kegiatan rutin seperti Nanggok ikan di sungai sering dilakukan. Namun sekarang ketika aku sudah beranjak dewasa #Ceileeh.. dan pulang ke Dusunku yang berada di daerah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Kegiatan seperti Nanggok Ikan sudah jarang dilakukan di daerahku (re: informasi ini akurat karena didapat langsung dari Emak).

Semua telah berubah... bukan karena disebabkan oleh Negara Api, tapi sekarang Musim dan Cuaca sedang tidak seiring dan sejalan, misalnya padahal sudah memasuki musim kemarau tapi hujan turun dengan lebat, yang tadinya bulan A adalah bulan rutin untuk kegiatan Nanggok ikan, malah bergeser ke bulan B, dan seterusnya hingga tidak bisa diprediksi lagi kapan harus melakukan kegiatan Nanggok ikan itu secara beramai-ramai. Padahal itu tradisi yang seru namun terpaksa perlahan pudar. Dan hal itu disebabkan oleh efek pemanasan global yang berefek pada perubahan iklim dan cuaca.


FOREST TALK WITH BLOGGER “MENUJU PENGELOLAAN HUTAN LESTARI”

Aku masih ingat beberapa minggu lalu ada yang menginfokan digrup Blogger Palembang, bahwa akan ada acara dalam bentuk talkshow interaktif dengan mengangkat tema “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari” yang dimotori oleh Yayasan Dr. Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia. Tentunya aku bersemangat untuk daftar dan menjadi bagian acara tersebut. (and by the way terima kasih untuk Mbak Travelerin yang udah bantuin aku daftar dikala kesulitan daftar via HP karena sinyal, saat itu posisinya lagi touring di Bangka).

Seperti yang aku sampaikan sebelumnya bahwa hutan menjadi bagian tak terpisahkan dalam cerita hidupku, salah satu alasannya juga adalah karena saat ini aku bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang Hutan Tanaman Industri, dan pastinya hidup bersama “hutan” adalah sebuah keharusan. oleh karena itu aku sangat antusias dengan acara tersebut.

Bertempat di Kuto Besak Theatre Palembang (Sabtu/23 Maret 2019), pagi itu aku semangat mengikuti dan menyimak talkshow interaktif yang diadakan oleh Yayasan Dr. Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia, organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan warisan Dr. Sjahrir (alm.) yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan.  
Narasumber pertama adalah Ibu Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia, The Climate Reality Project Indonesia sendiri merupakan bagian dari The Climate Reality Project yang berbasis di Amerika yang memiliki lebih dari 300 relawan di Indonesia yang fokus melakukan sosialisasi perubahan iklim dan mendorong masyarakat untuk menjadi bagian dan solusi.

Ketika Ibu Amanda memulai pemaparan, pada slide ke-2 langsung mempelihatkan kondisi iklim yang ekstrim dan berbeda terjadi di 2 tempat, yakni Amerika dengan suhu -40 Celsius dan Australia +50 Celsius pada tahun yang sama. *mataku langsung terbelalak dan antusias menyimak*.

Terjadinya kejadian ekstrim tersebut pada satu waktu dikarenakan aktivitas yang berlebihan dari manusia yang menyebabkan pemanasan global,  mulai dari proses industri, kebakaran hutan, tambang batubara, produksi minyak hingga transportasi mengakibatkan pemanasan global yang berujung pada perubahan iklim.

SOLUSI MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

Perubahan iklim merupakan permasalahan terbesar karena sudah mengakibatkan berbagai bencana yang tidak hanya menimbulkan kerugian alam, material,  namun juga ikut memakan  korban jiwa. Di tahun 2018, secara global perubahan iklim menyebabkan cuaca ekstrim yang berdampak pada 60 juta orang. Sedangkan untuk di Indonesia ada 2481 bencana dengan 10 juta orang yang menderita dan mengungsi. Untuk itu, perlu solusi untuk menghadapi Perubahan Iklim yang disebabkan oleh pemanasan global, melalui upaya Mitigasi dan Adaptasi.

Mitigasi merupakan upaya memperlambat proses perubahan iklim global dengan mengurangi level gas-gas rumah kaca di atmosfera dan mengurangi emisi dari kegiatan manusia. Seperti menggunakan 100% energi terbarukan (tenaga angin, air, matahari dll), dan perusahaan-perusahaan mobil yang menuju kendaraan listrik.

Sedangkan Adaptasi merupakan upaya mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global. Seperti peralihan global ke pola makan yang mengurangi daging dan menambah buah-buahan dan sayur-sayuran dapat menyelamatkan 8 juta hidup manusia pada tahun 2050, serta dapat menghemat biaya kesehatan dan kerusakan iklim US$1,5 Triliun.


PENTINGNYA FUNGSI HUTAN

Narasumber kedua yaitu Ibu Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia, yang menyampaikan perihal pengelolaan hutan dan lanskap yang berkelanjutan, isu seputar hutan, penyebab serta dampak yang timbul.

Masih berkaitan dengan penyebab perubahan iklim dari dampak pemanasan global, menjaga keberlangsungan hutan adalah solusi terbaik yang ada saat ini dan Indonesia menjadi negara yang ambil andil besar dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Namun masih banyak oknum yang belum sadar, dan tetap melakukan kegiatan alih fungsi hutan seperti pembalakan/penebangan hutan / open akses untuk ladang / pertanian atau kebun masyarakat seperti karet dan kelapa sawit. Dan pada akhirnya dari ulah manusia itu sendiri menimbulkan dapat seperti bencana kebakaran, kabut asap, dan bencana banjir.


Tidak menutup fakta bahwa alih fungsi hutan disisi lain diperlukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, namun untuk menghidari dampak yang ditimbulkan kedepan, maka upaya yang dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi hutan melalui pengelolaan lanskap berkelanjutan seperti konversi hutan menjadi pertanian / perkebunan yang dikelola dengan konsep berkelanjutan.

Kita juga dapat berperan secara langsung ataupun tidak lansung dalam upaya pelestarian hutan, yakni dengan cara mendukung bentuk kegiatan / program atau aktivitas mendukung pelesatarian hutan yang ada, mendukung hasi hutan bukan kayu, pemanfaatan jasa ekosistem (hutan), mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan dan mendukung produksi / produk kayu berkelanjutan. Karena pada akhirnya kita masyarakat jugalah yang akan merasakan manfaat terjaganya hutan / adanya hutan yang lestari.


HUTAN, POHON DAN EKONOMI KREATIF

Ibu Murni Titi Resdiana MBA dari Kantor Utusan Khusus Presiden Bidang Pengendalian Perubahan Iklim menjadi narasumber selanjutnya dengan memaparkan besarnya potensi hasil hutan bukan kayu di Indonesia. Aku sendiri lewat acara ini baru mengetahui bahwa pohon bisa menjadi sumber serat, sumber pewarna alami, sumber bahan kuliner, sumber bahan funiture, perabotan, kerajinan tangan, hingga produk kecantikan (belum ketemu istilah produk kegantengan hehehe).

Salah satu contohnya adalah produk Javara Indonesia yang merupakan hasil dari “alam” dengan pengelolaan yang baik dan dikemas cantik dengan tetap menonjolkan sisi kearifan budaya indonesia.

Dengan besarnya potensi hasil hutan bukan kayu di Indonesia, diyakin mampu menciptakan ekonomi kreatif yang siap bersaing, tentunya didukung dengan potensi ecoproduct yang ada, pemberdayaan terhadap masyarakat, peningkatan keterampilan, dukungan investor dan akses market.


PROGRAM PEMBERDAYAAN DESA

Narasumber terakhir pada sesi talkshow yang diadakan oleh Yayasan Dr. Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia adalah Bapak Janudianto (Head of Social Impact & Community Development - Corporate Social & Security Division) dari APP Sinarmas yang fokus pada Membangun Desa Makmur Peduli Api (DMPA), sebuah program pemberdayaan konservasi hutan, serta menjadi bentuk perusahaan dalam berperan untuk pengelolaan hutan lestari. Serta program pemberdayaan desa yang bertujuan dengan meningkatkan hasil produksi pertanian, perkebunan dan perikanan, agar dapat membantu perekonomian masyarakat desa.

Melalui acara ini, menjelaskan bahwa sangat penting menjaga kelestarian hutan kini dan untuk nanti. Karena itu adalah langkah penting untuk meminimalisir dampak dari akibat perubahan iklim yang terjadi sekarang. Support dari semua pihak diperlukan untuk mendukung upaya menjaga kelestarian hutan, mulai dari Pemerintah, Civil Society Organisations, Sektor Swasta, dan masih banyak lagi.

Setelah talkshow selesai, dilanjutkan dengan workshop berupa proses ecoprint pada kain dengan bahan alami oleh Galeri Wongkito, kemudian Mellin Gallery yang memanfaatkan limbah kayu sebagai usaha oleh-oleh khas Palembang berbahan dasar kayu.kemudian juga demo masak yang menjadi acara penutup yang digelar oleh Yayasan Dr. Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia di Palembang.

#LestariHutan - www.lestarihutan.id - Twitter @YSjahrir - IG @yayasandoktorsjahrir 


You Might Also Like

10 komentar

  1. Mainan ituuu 😍😍😍
    Terakhir main tembakan biji buah itu jaman SD loooh. Anak sekarang masoh ngerti ga ya? Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wong lamo.. hahahha... aku gak yakin anak sekarang ngerti mainan itu, paling mereka hafal nama-nama youtuber indonesia hahahha

      Hapus
  2. Ya ampun senapan bambu hahaha, dulu pas SD banyak yang jual, sekarang gak pernah liat lagi.

    LESTARILAH HUTANKUUU

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo didusun maman, yang nak main buat dewek hehehehe... kadang saling membanding-bandingkan buatan siapa yang bagus dan paling kuat tembakannya

      Hapus
  3. Duh nanggok ikan! Hahaha dulu sering melakukan kegiatan ini. Di dam belakang komplek yang bersih. Sekarang udah terkontaminasi. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa.. sekarang aku kalo balik ke dusun liat sungai udah banyak ketutup gondok, dan orang-orang udah jarang ke sungai karena PAM udah masuk :/

      Hapus
  4. Wah, maman...aku jadi tau istilah baru...nanggok ikan

    BalasHapus
  5. Naa maman tulisan awalnyo la buat tepingkel2.. :v

    BalasHapus

Popular Posts

Twitter

Subscribe